40 HADITS TENTANG AKHLAK: Hadits ke-21

Hadits ke-21: Nasihat

A.    Redaksi Hadits

عَنْ تَمِيمٍ الدَّارِيِّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «الدِّينُ النَّصِيحَةُ» قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: «لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ»

Dari Abu Ruqayyah bin ‘Aus Ad-Dari Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Agama adalah nasihat (loyalitas)." Kami bertanya, “Terhadap siapa?" Beliau menjawab, "Terhadap Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin, dan seluruh kaum muslimin.” (HR. Muslim)

B.     Takhrij Hadits

1.      Sunan an-Nasa’i, Bab an-Nashihah lil Imam no. 4197 dan no. 4198

2.      Sunan Abi Dawud, Bab fi an-Nashihah no. 4944

3.      Musnad Ahmad, Hadits Tamim ad-Dariyyi no. 16940, no. 16941, no. 16945, dan no. 16947

4.      Shahih Ibnu Hibban, Dzikru al-Ikhbar ‘Amma Yajibu ‘ala al-Mar’i min Luzum an-Nashihah fi Dinillah li Nafsihi wa lil Muslimin ‘Ammah no. 4574 dan no. 4575

5.      Musnad Ibnu Abi Syaibah, Tamim ad-Dariyyu Radhiyallahu ‘Anhu no. 820

C.    Kandungan Hadits

Al-Khithabi berkata: “Nasihat adalah ungkapan suatu kalimat, atau berarti menghendaki kebaikan pada yang diberi nasihat. Asal makna nasihat menurut etimologi adalah membersihkan. Jadi makna nasihat (loyal) terhadap Allah adalah memurnikan keyakinan dalam keesaan-Nya dan ikhlas beribadah kepada-Nya. Nasihat (loyal) terhadap kitab-Nya adalah mengimani dan mengamalkannya. Nasihat (loyal) terhadap Rasul-Nya adalah membenarkan kenabiannya, mengerahkan ketaatan terhadapnya dengan melaksanakan perintahnya dan menjauhi larangannya. Nasihat (loyal) terhadap kaum muslimin adalah menunjukkan mereka kepada kemaslahatan.”

Abu ‘Amr bin ash-Shalah berkata, “Nasihat adalah kalimat yang mengandung pengertian dimana pemberi nasihat menginginkan kebaikan pada yang diberi nasihat.” Para salaf apabila hndak menasihati seseorang maka mereka melakukannya secara tersembunyi, bahkan sebagian mereka, “Barangsiapa mengingatkan saudaranya, lalu ia melakukannya hanya antara dia dengan saudaranya itu, maka itulah nasihat. Adapun yang menasihatinya di hadapan orang lain, berarti telah mempermalukannya.”

               Al-Fudhail bin Iyadh berkata, “Orang mukmin menutupi aib saudaranya dan memberi nasihat, sedangkan orang jahat menghancurkan dan menghina.” Imam Syafi’i berkata, “Sampaikan nasihatmu kepadaku dalam kesendirianku. Hindarilah penyampaian nasihat di depan orang banyak. Sesungguhnya penyampaian nasihat di hadapan orang lain adalah suatu bentuk mempermalukan yang aku tidak rela mendengarnya. Jika engkau menyelisihiku dan mengingkari ucapanku, maka janganlah engkau potong-potong jika tidak engkau mati.” Imam Syafi’i juga berkata, “Barangsiapa menasihati saudaranya dengan sembunyi-sembunyi, berarti ia telah menasihati dan mengindahkannya. Barangsiapa menasihatinya dengan terang-terangan, berarti ia telah mempermalukan dan memburukkannya.”

Komentar